Rusia Kembali Gunakan Rudal Oreshnik ke Ukraina, Seberapa Mematikan Senjata Ini?
Rusia Kembali Gunakan Rudal Oreshnik ke Ukraina, Seberapa Mematikan Senjata Ini?
Ringkasan Berita:
- Rusia kembali menggunakan rudal hipersonik Oreshnik dalam serangan besar ke Kyiv, Ukraina.
- Rudal ini mampu melaju lebih dari Mach 10, membawa beberapa hulu ledak sekaligus, dan sulit dicegat sistem pertahanan udara biasa.
- Meski Rusia menyebut Oreshnik hampir mustahil dihentikan, sejumlah analis Barat menilai kemampuan rudal tersebut masih dibesar-besarkan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia kembali menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik dalam serangan besar ke Kyiv pada Minggu (24/5/2026).
Serangan drone dan rudal tersebut menewaskan sedikitnya dua orang serta merusak sejumlah bangunan di ibu kota Ukraina, termasuk area dekat kantor pemerintahan, sekolah, dan permukiman warga.
Baca juga: Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Ukraina, Kyiv Diguncang Rudal-Drone Usai Janji Pembalasan Putin
Ini menjadi kali ketiga Rusia menggunakan rudal Oreshnik sejak perang Ukraina berlangsung.
Oreshnik merupakan rudal balistik hipersonik jarak menengah yang dapat membawa hulu ledak nuklir maupun konvensional. Nama “Oreshnik” sendiri berarti “Pohon Hazel”.
Seberapa Mematikan Rudal Oreshnik?
Rudal tersebut dikembangkan dari sistem RS-26 Rubezh yang sebelumnya dirancang Rusia sebagai rudal balistik antarbenua atau intercontinental ballistic missile (ICBM).
Salah satu kemampuan utama Oreshnik adalah membawa beberapa hulu ledak sekaligus untuk menyerang banyak target dalam satu peluncuran. Kemampuan seperti ini biasanya dimiliki rudal strategis jarak jauh.
Selain itu, rudal ini mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 10 atau di atas 12.000 kilometer per jam.
Dengan kecepatan hipersonik tersebut, Oreshnik disebut dapat mengubah arah saat berada di udara sehingga membuatnya sangat sulit dilacak maupun dicegat sistem pertahanan udara konvensional.
Rudal Oreshnik memiliki jangkauan sekitar 500 hingga 5.500 kilometer. Sistem ini juga dapat membawa tiga hingga enam hulu ledak yang masing-masing bisa berisi submunisi untuk menyerang area luas secara bersamaan.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengklaim Oreshnik hampir tidak bisa dicegat dan memiliki daya rusak yang setara dengan senjata nuklir meski menggunakan hulu ledak biasa.
Namun, sejumlah analis Barat membantah klaim tersebut dan menilai kemampuan Oreshnik masih dibesar-besarkan.
Pada Desember 2024, seorang pejabat Amerika Serikat bahkan menyebut rudal itu masih bersifat eksperimental dan belum menjadi pengubah permainan utama di medan perang.
Pejabat tersebut juga mengatakan Rusia diyakini belum memiliki stok Oreshnik dalam jumlah besar.
Rudal Oreshnik pertama kali digunakan Rusia pada November 2024 ketika ditembakkan dari lokasi uji coba Kapustin Yar di wilayah Astrakhan untuk menyerang fasilitas industri militer di kota Dnipro, Ukraina.
Tribunnews.com
Reviewed by eela
on
May 24, 2026
Rating:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/La-Ode-Safiul-Akbar-mendeklarasikan-diri-maju-sebagai-calon-Ketum-Kosgoro.jpg)