Judul postingan RSS Feed : Indef Wanti-wanti Bahaya Defisit APBN Sudah Dekati 3 Persen, Beberkan Sejumlah Risikonya
link : Indef Wanti-wanti Bahaya Defisit APBN Sudah Dekati 3 Persen, Beberkan Sejumlah Risikonya
Indef Wanti-wanti Bahaya Defisit APBN Sudah Dekati 3 Persen, Beberkan Sejumlah Risikonya
January 20, 2026 at 09:37AM Feed Digital::quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-nilai-tukar-rupiah90.jpg)
Ringkasan Berita:
- Defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen PDB, mendekati batas aman 3 persen.
- Indef menilai defisit tinggi berisiko mempersempit ruang fiskal, meningkatkan tekanan pembiayaan utang, dan memicu crowding out.
- Kepercayaan pasar tetap terjaga jika pemerintah menunjukkan disiplin fiskal dan peta jalan penurunan defisit yang jelas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Defisit Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) pada 2025 yang mendekati batas 3 persen dinilai berisiko mengganggu kepercayaan pasar bila tidak disertai strategi penurunan yang jelas.
Defisit merupakan kondisi ketika pengeluaran lebih besar daripada pemasukan dalam suatu periode tertentu. Defisit anggaran yaitu belanja pemerintah lebih besar dibandingkan pendapatan negara atau daerah.
Adapun defisit APBN pada 2025 tercatat sebesar Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen. Angka ini melampaui proyeksi defisit 2,78 persen, bahkan hampir menyentuh batas 3 persen.
Baca juga: Menko Airlangga Tegaskan Defisit APBN Sebesar 2,92 Persen Tak Berdampak pada Kepercayaan Investor
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, dampak paling cepat dari defisit yang mendekati batas 3 persen adalah penyempitan ruang fiskal.
"Dengan defisit mendekati batas aman 3 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), pemerintah akan semakin berhati-hati menambah belanja baru, terutama belanja yang tidak produktif," katanya kepada Tribunnews, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, dalam jangka pendek, tekanan juga akan muncul pada pembiayaan utang karena kebutuhan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) meningkat agar menjaga imbal hasil (yield) tetap tinggi.
Kondisi tersebut bisa menahan akselerasi belanja infrastruktur dan belanja sosial tambahan.
Selain itu, dapat meningkatkan risiko crowding out terhadap pembiayaan sektor swasta jika likuiditas pasar keuangan mengetat.
Crowding out merupakan kondisi ketika investasi sektor swasta berkurang akibat naiknya kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui pinjaman.
Rizal menekankan bahwa defisit di level 2,92 persen sebenarnya belum serta-merta menurunkan kepercayaan investor, selama pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal dan menunjukkan peta jalan penurunan defisit yang jelas.
"Selama defisit masih terkendali, kredibel, dan transparan, level 2,92 persen [terhadap] PDB belum otomatis menurunkan kepercayaan investor," ujarnya.
Ia menambahkan, pasar pada dasarnya melihat kualitas defisit, termasuk apakah belanja diarahkan ke sektor produktif dan bagaimana strategi konsolidasi fiskal dilakukan.
Pasar juga memerhatikan bagaimana konsistensi pemerintah menjaga disiplin anggaran.
Meski begitu, Rizal mengingatkan risiko terhadap sentimen pasar jika defisit tinggi berlangsung berlarut tanpa arah penurunan yang jelas.
Tribunnews.com
Demikianlah Artikel Indef Wanti-wanti Bahaya Defisit APBN Sudah Dekati 3 Persen, Beberkan Sejumlah Risikonya
Anda sekarang membaca artikel Indef Wanti-wanti Bahaya Defisit APBN Sudah Dekati 3 Persen, Beberkan Sejumlah Risikonya dengan alamat link https://subscribe-id.blogspot.com/2026/01/indef-wanti-wanti-bahaya-defisit-apbn.html
No comments: